religions are obsolete
hey, believers out there, do you really believe in religion? at first religion was built upon the desperation of men. desperation which emerge from the inability of men to control every aspects in life. they seek for answers and they thought they have found it, they found it in god. the fact cannot be disregarded. because the existence of god is undeniable. but then, some group of people thought that the relation between men and god should be regulated, they created religions instead. some religions concentrated on how we connect with god and aim for the afterlife, heaven and hell. some focused on how to live the life harmoniously.
as time goes by, some people thought that their paths of religion are the best among others. thus, war in the name of god began. people killed people with different beliefs in the name of god. people despise others who don’t have the same belief. such actions are justified by their interpretation of god in their religion. let me ask you this, does god actually wants us to kill each other in his name? if you answer is yes, then your god is a mad god.
i have a different perception of god. god is enormously great. greater from all things we recognized in this world. he should not be named, because his name became a limitation. his name became a reason and a justification of misconducts. religions, furthermore, strengthen the justification.
religions separate people. religions create boundaries among men. boundaries which we absolutely don’t need, because those boundaries have lines which should not be crossed. those boundaries abide us from being a free man. those boundaries made us a small part of the system. it eliminates our human rights, to be a human. the boundaries made us forget that every human are the same; that we are flesh, blood, and soul. no power has the right to change that, except god himself.
so, ask your self this. why do you believe in religion? because your parents or the society bid you to do so or because from the bottom of your soul you really really want it. if you need a guidance to live your life, you don’t need a specific kind of religion. you can ask god by yourself, without any medium or such. you can communicate with him by connecting yourself with nature, people around you, your heart. you can ask him any question you want to ask, without worrying that he will be mad. he loves us so much. but, we are the one who forget that he loves us and we forget to love him.
the connection between men and god is a direct vertical connection, no religion needed. period.
First Gig: Imaji & Bedroom Troubadours
Bulan ini merupakan bulan yang baik bagi perkembangan karir bermusik gw. Karena oh karena, dua band yang dianggotai oleh gw mendapat first gig-nya masing-masing. Hell yeah!
Pertama, Imaji tampil di acara Redneck II di Fakultas Sastra Unpad. Acara berlangsung hari Kamis, 11 September 2008, jam 15.00 WIB. Acara berlangsung dengan sangat lancar, well, nggak juga sih. Soalnya gitaris gw, Tama, telat dateng dan bikin gw stage fright gila-gilaan. Kegugupan gw bisa dilihat dengan berhasilnya gw memutuskan senar gitar akustiknya Gilang (Maap ya, Lang. -devindra-) saat nyamain suara gitar Gilang sama gitarnya Tama. Untungnya, ada gitar listrik nganggur, berhasil lah disetem tanpa menghasilkan senar yang putus. Lanjutlah Imaji bermusik. Baru selesai lagu pertama, salah satu senar gitar yang gw pake ikut putus. Untungnya gak kaya di film Rhoma Irama yang senarnya putus hingga membutakan mata. Gara-gara kejadian itu tambah grogi lah gw. Untungnya musikalitas dan skill Tama dalam bergitar sudah cukup mumpuni untuk menutup suara senar yang udah putus. Imaji terus bernyanyi hingga lima lagu ciptaan sendiri dikumandangkan. Puasnya luar biasa, walaupun masih ada nada-nada selip sedikit. Namanya juga first gig. Senangnya lagi, crowdnya memberi tanggapan positif terhadap lagu-lagu yang kami bawain, ga sampe lempar-lempar bunga sih. Tepuk tangan yang lumayan meriah sudah bisa menjadi barometer bahwa musik yang kami mainkan didengar oleh penonton. Bahkan, ama mendapatkan seorang groupies. Lucky b*****d!
Perasaan deg-degan sewaktu nunggu waktu main di atas panggung terbayarkan dengan kepuasan yang di dapet dari menyalurkan hal yang gw senangi dan tentunya mendapatkan respon dari orang-orang. Lagipula, hasrat musik pribadi gw tersalurkan, dan sekarang gw mulai merasa addicted to perform in public.
Kedua, band gw yang satu lagi, Bedroom Troubadours, juga mendapat kesempatan untuk unjuk gigi tanggal 20 September 2008 di Spazio, Pondok Indah Mall II. Lalalala, hatiku gembira. Sebenernya band yang satu ini sudah terbentuk lama, namun bubar dan rujuk kembali dengan nama baru dan format baru Devindra (vokal), Toni (lead guitar), Alan (rhythm guitar), dan Ardan (bass).
Jadwal menunjukkan bahwa Bedroom seharusnya menggoyang panggung pada pukul 21.50 WIB tapi apa mau dikata, namanya juga acara buatan manusia, jam di jadwal sama di dunia nyata tidak sama, Bedroom baru manggung pukul 22.30 WIB. Pas mau manggung bersama Bedroom sebenernya yang seru bukan pas manggungnya tapi pas sebelum manggungnya. Karena, sorenya kami terlambat untuk checksound namun ternyata jadwal checksound kami bisa diundur. Kami deg-degan banget waktu ngeliat jam, karena kami sebenernya kurang latian dan masih belum rapih main lagunya dan berharap sewaktu checksound bisa kami manfaatkan sebagai latihan. Sehabis checksound kami kembali ke basecamp di Rawamangun, rumahnya Toni. Nekat! Padahal selisih waktu antara checksound dan manggung hanya beberapa jam saja, jam 18.00 WIB kami selesai checksound. Jam 19.30 WIB kami sampai di basecamp. Jam 20.00 WIB kami sudah meluncur kembali ke PIM II, bener-bener buang-buang bensin demi mandi dan ganti baju. Selama perjalanan kembali ke tempat acars berlangsung semua jantung personil Bedroom deg-degan hampir copot semuanya. Semua terdiam di dalam Kijang Putih (band wagon kami), mobilnya Toni. Akhirnya kami memutuskan untuk mendengarkan lagu P.U.S.P.A-nya ST12, dari Ipod-nya Toni, ternyata ampuh juga mengurangi rasa deg-degan kami karena kami berhasil tertawa dibuatnya. Namun, pengaruh ST12 luntur ketika kami sudah tiba di tempat acara dan duduk menunggu giliran kami naik ke atas panggung. Berbagai macam ketakutan berkecamuk di kepala masing-masing personil Bedroom. Stage fright yang gw alami lebih parah dari stage fright sebelum Imaji manggung. Akhirnya tiba saatnya kami mengguncang PIM II dengan musik kami. Kami membawakan tiga lagu ciptaan kami sendiri. Lagu pertama baik-baik saja, bahkan sanggup membuat mata penonton untuk sementara terpusat pada kami. Lagu kedua, entah kenapa, suara musik yang gw denger jadi gaenak. Suara gitarnya Toni dan Alan seperti pincang, tidak harmonis. Tapi demi profesionalisme kami tuntaskan lagu itu dengan segala kekurangannya. Bodohnya, saya yang merasakan adanya kepincangan suara itu diam saja karena saking demam panggungnya. Jadi, lanjutlah kami ke lagu ketiga dan terakhir, dan menurut saya yang paling tidak enak didengar karena masalah teknis itu tadi. Alhasil, kami turun panggung dengan rasa kecewa pada diri kami masing-masing. Walaupun, handai taulan dan sahabat-sahabat kami memberitahu kami bahwa kami telah bermain dengan baik, tetap saja ada rasa tidak puas dalam hati ini. Kedahagaan gw akan public performance tidak terpuaskan di sini karena tidak tampil secara maksimal.Dari setiap band yang gw gawangi memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, semoga dengan semakin tingginya jam terbang gw dalam menghiasi dunia musik Indonesia, walaupun masih dalam lingkup kecil, kemampuan gw dalam berpentaspun akan meningkat sehingga mampu memberikan bukan hanya kepuasan bagi diri gw sendiri tapi juga orang yang menyaksikan penampilan gw di atas panggung.
Dengan ini gw mau ngucapin terima kasih ke semua pihak yang udah menyelenggarakan acara sehingga Imaji dan Bedroom Troubadours bisa manggung untuk pertama kalinya dengan rentang waktu yang cukup dekat. Terima kasih buat Tama dan skill gitarnya. Terima kasih buat Toni atas skill gitar, studio rumah, mobil kijang putih, bensin, kesabaran, dan keteguhan hatinya. Terima kasih buat Alan dan skill gitarnya. Terima kasih buat Ardan dan skill bassnya. Terima kasih buat Arimbi Tarq ‘09 udah melayani Bedroom Troubadours. Terima kasih buat Gilang atas gitar dan kesempatan yang diberikan untuk Imaji. Terima kasih untuk Ninda yang udah ngasi tau anak tarq kalo gw punya band bernama Bedroom Troubadours. Terima kasih buat kalian yang udah baca blog ini. Maap ya udah buang-buang waktu kalian untuk tulisan yang ga penting. Khehehe….
Akhir kata, gw mohon doanya untuk keberhasilan Imaji dan Bedroom Troubadours di masa depan (kok gw jadi kaya nulis surat ya? tai nih!).
Sampai jumpa di blog gw berikutnya.